Sentra Garam Sebubus Diproyeksikan Swasembada 2027, DKP Kalbar Dukung Kembangkan
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sentra Garam Sebubus Diproyeksikan Swasembada 2027, DKP Kalbar Dukung Kembangkan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOKALBAR -Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan lakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Kegiatan itu turut didampingi Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Barat, Natalia Karyawati.
Rombongan yang dipimpin Plt. Asisten Deputi Percepatan Pembangunan Kawasan Kepulauan, Pesisir, serta Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar itu mengunjungi Kelompok Usaha Garam Kampak Indah di Desa Sebubus untuk melihat langsung perkembangan produksi garam rakyat yang diproyeksikan menjadi salah satu sentra garam nasional.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Barat, Natalia Karyawati, mengatakan pengembangan industri garam di Desa Sebubus menjadi bagian dari upaya mendukung target swasembada garam nasional pada 2027, sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat di kawasan perbatasan.
“Desa Sebubus memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai sentra produksi garam. Dengan dukungan teknologi, kolaborasi lintas kementerian, dan pemerintah daerah, kami optimistis kawasan ini mampu memberikan kontribusi terhadap target swasembada garam nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Selain meninjau sentra produksi garam, rombongan juga mengunjungi Kebun Raya Sambas (KRS) guna mengevaluasi progres pembangunan kawasan, serta meninjau Pos Lintas Batas (PLB) Paloh sebagai bagian dari sinkronisasi pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan.
Menurut Natalia, pengembangan kawasan Paloh tidak hanya berfokus pada sektor garam, tetapi juga mencakup potensi besar di bidang kelautan, perikanan, dan pariwisata.
Paloh dikenal sebagai salah satu kawasan dengan garis pantai terpanjang di Indonesia, sekitar 63 kilometer, sekaligus menjadi lokasi peneluran penyu yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Di sisi lain, kawasan tersebut juga memiliki potensi ekonomi yang besar melalui pengembangan wisata pesisir dan industri garam rakyat.
Ia menjelaskan, produksi garam di Desa Sebubus saat ini terus ditingkatkan melalui penerapan teknologi tunnel, yang mampu meningkatkan kualitas sekaligus kuantitas hasil produksi dibandingkan metode konvensional.
“Dengan letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia, produk garam dari Sebubus memiliki peluang besar untuk memasuki pasar ekspor. Ini menjadi peluang ekonomi yang harus terus didukung melalui peningkatan kualitas produksi dan penguatan infrastruktur,” katanya.
Natalia menegaskan bahwa pengembangan kawasan perbatasan harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Pasalnya, Kecamatan Paloh merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Kalimantan Barat yang memiliki fungsi penting dalam menjaga ekosistem pesisir dan laut.
“Pengembangan ekonomi dan konservasi harus berjalan beriringan. Karena itu, koordinasi lintas sektor perlu terus diperkuat agar pembangunan di kawasan perbatasan tidak hanya meningkatkan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjaga kelestarian sumber daya alam sebagai fondasi ekonomi biru yang berkelanjutan,” tutupnya.
Kunjungan kerja tersebut juga dihadiri sejumlah pejabat dari kementerian dan lembaga, di antaranya perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Direktur Sumber Daya Kelautan, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Sambas.
Pertemuan itu menjadi momentum untuk menyelaraskan program pembangunan kawasan perbatasan agar berjalan lebih terpadu dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar