Harmoni Pramuka di Pesisir Pasir Panjang: Saat Karakter, Budaya, dan Gelak Tawa Menyatu
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SINGKAWANG — Desir angin pantai dan riak gelombang di Pantai Pasir Panjang Indah menjadi saksi geliat ratusan anak muda Kota Singkawang selama tiga hari terakhir. Sejak Rabu hingga Jumat (19–21 Agustus 2026), kawasan pesisir ini tak sekadar menjadi tempat rekreasi, melainkan kawah candradimuka persemaian karakter generasi penerus bangsa.
Melalui sinergi Kemah Budaya yang diusung Saka Widya Budaya Bakti (SWBB) Disdikbud Singkawang serta Gelang Ajar oleh Kwarcab Gerakan Pramuka Singkawang, tiga peringatan besar—HUT Ke-81 RI, Hari Pramuka Ke-65, dan Hari Anak Nasional—dirayakan dengan cara yang begitu bernyawa.
Bukan Sekadar Tenda dan Upacara
Di balik megahnya perkemahan yang diikuti 480 pelajar SMP/MTs dan 32 pembina SD/SMP se-Kota Singkawang ini, ada nilai mendalam yang ingin ditanamkan. Kepala Disdikbud Kota Singkawang, H. Asmadi, S.Pd., M.Si. (yang juga Plt. Kadis Sosial PPPA Singkawang), menegaskan bahwa ruang-ruang kepramukaan adalah laboratorium karakter sesungguhnya.
“Kegiatan kepramukaan bukan sekadar seremonial. Ini adalah langkah awal implementasi pendidikan karakter untuk mempersiapkan generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045. Melalui Kemah Budaya dan Gelang Ajar, nilai gotong royong dan kemandirian berkecambah,” tutur Asmadi saat menutup kegiatan.
Pesan tersebut diperkuat oleh Ketua Kwarcab Singkawang, Kak Tri Wahyudi, A.Md. Menurutnya, jika nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma dapat dihidupkan dalam keseharian, maka para pemuda ini otomatis akan tumbuh menjadi pribadi terbaik di masyarakat.
Wadah Gagasan dan Kreativitas
Tidak hanya peserta didik yang ditempa. Melalui Gelang Ajar, para pembina diajak berdiskusi merumuskan metode pengajaran terbaik. Kepala Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK), Dr. Eka Khristiyanta Purnama, S.S., M.Pd., yang hadir secara istimewa, berpesan agar para guru saling berbagi best practice demi menciptakan inovasi pembelajaran di sekolah masing-masing.
Di lapangan, dinamika perlombaan terasa begitu hidup. Ketua Panitia, Tri Wahyudi Arhap, S.E., memaparkan ragam agenda mulai dari Seminar Budaya & Anti-Narkoba (BNN), Lomba Lintas Nusantara, Uji Cipta Teknologi Tepat Guna (alat penjernih air), hingga Fashion Show pakaian adat dari material daur ulang.
Kebanggaan pun memuncak saat regu SMPN 4 Singkawang berhasil membawa pulang piala Juara Umum Putra, dan regu SMPN 19 Singkawang menyabet Juara Umum Putri Kemah Budaya 2026. Jejak Kesan di Alam Terbuka Bagi para peserta, tiga hari di alam terbuka memberikan warna tersendiri.
Alice Vilentsya, salah seorang peserta, tak mampu menyemb nyikan rasa bahagianya.
“Seru sekali! Biasanya perkemahan 3 hari 2 malam cuma diadakan di lingkungan sekolah. Tapi kali ini langsung di alam terbuka pantai dan bisa berteman dengan siswa dari sekolah lain. Materi dan lombanya menantang. Semoga di tahun 2027 ada lagi!” ujar Alice penuh binar antusiasme.
Saat mentari Jumat sore mulai condong ke barat, kemah-kemah mulai dirapikan. Namun, benih karakter, kenangan kebersamaan, dan kecintaan pada budaya lokal dipastikan akan terus terbawa pulang ke sekolah dan rumah masing-masing. (*)
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar