Terobos Kabut Asap, Warga Ketapang Tewas Terbakar di Lokasi Karhutla
- account_circle Admin
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Terobos Kabut Asap, Warga Ketapang Tewas Terbakar di Lokasi Karhutla
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOKALBAR KETAPANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali memakan korban jiwa. Seorang warga bernama Taufik dilaporkan meninggal dunia setelah diduga pingsan akibat kekurangan oksigen di tengah kepungan asap, lalu tubuhnya terbakar.
Kepala BPBD Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengatakan hingga Rabu (5/8/2026), api di sejumlah lokasi masih belum berhasil dikendalikan. Tim gabungan bahkan baru kembali dari lokasi pemadaman sekitar pukul 04.00 WIB dan kembali diterjunkan ke lapangan pada pagi harinya.
“Tim pengendalian karhutla baru pulang sekitar jam 4 subuh. Jam 07.30 WIB tadi mereka sudah bergeser lagi ke lokasi. Artinya kondisi terkini karhutla memang belum dapat dikendalikan,” kata Yunifar.
Menurut Yunifar, korban meninggal diduga nekat menerobos kawasan yang dipenuhi asap saat hendak pulang. Dalam kondisi minim oksigen, korban diduga pingsan di pinggir jalan yang di sisi kanan dan kirinya terdapat kobaran api.
“Korban diduga menerobos kabut asap karena ingin cepat pulang. Kemungkinan kekurangan oksigen hingga pingsan. Di sisi kiri dan kanan jalan ada api, sehingga beliau terjatuh dan akhirnya meninggal dalam keadaan terbakar,” ujarnya.
Selain korban meninggal, BPBD juga mencatat sedikitnya dua korban terdampak kebakaran hingga dini hari. Salah satunya seorang lanjut usia dan telah dievakuasi ke RSUD dr Agus Djam Ketapang untuk mendapat perawatan medis.
Yunifar mengatakan salah satu lokasi kebakaran terparah berada di Desa Pelang dengan luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai lebih dari 40 hektare.
“Kendala klasik kami di lapangan adalah sulit mendapatkan sumber air untuk pemadaman. Tahun ini kondisi karhutla juga berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
BPBD juga mengandalkan operasi water bombing untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat. Menurut Yunifar, metode tersebut tetap efektif, terutama di lokasi yang tidak memiliki sumber air dan sulit dijangkau petugas.
“Peran water bombing sangat penting. Biasanya digunakan ketika akses darat sulit atau tidak ada sumber air di sekitar lokasi. Yang menjadi kendala justru saat masyarakat berada di sekitar lokasi sehingga menyulitkan proses pengeboman air,” ujarnya.
Ia berharap helikopter water bombing dan patroli udara dapat disiagakan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang agar respons terhadap kebakaran bisa lebih cepat.
Sementara itu, berdasarkan informasi BMKG, titik panas di Kalimantan Barat terus meningkat dan telah menembus angka lebih dari 100 titik. Yunifar menyebut hampir seluruh kecamatan di Ketapang kini memiliki titik kebakaran, yang sebagian dipicu aktivitas pembakaran lahan oleh masyarakat pada musim kemarau.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar