Direktur Pascasarjana UNTAN Wakili Indonesia Sampaikan Pidato pada Penutupan Seminar Internasional di Shanghai
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
YOKALBAR– Direktur Pascasarjana Universitas Tanjungpura (UNTAN), Dr. Nurmainah, S.Si., M.M., Apt., berkesempatan mewakili Indonesia menyampaikan pidato pada seremoni penutupan seminar internasional tentang kebijakan pendidikan yang diselenggarakan oleh East China Normal University (ECNU), Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.
Seremoni penutupan berlangsung pada Selasa, 16 Juni 2026, setelah rangkaian seminar yang berlangsung selama tiga pekan dan diikuti peserta dari berbagai negara.
Kegiatan diawali dengan sambutan Associate Dean of the Graduate School ECNU, Prof. Yang Fuyi, yang menyampaikan bahwa seminar tersebut menjadi praktik penting dalam memperkuat kerja sama pendidikan internasional serta mempererat persahabatan antarnegara, yakni Indonesia, Barbados, Botswana, Kamboja, Ethiopia, Fiji, Gambia, Kenya, dan Sierra Leone.
Menurutnya, para peserta memperoleh berbagai materi dari profesor ECNU dan para pakar dari lembaga lain mengenai kondisi dan perkembangan Tiongkok, perencanaan kebijakan pendidikan, tata kelola pendidikan, penjaminan mutu, hingga inovasi pendidikan mulai dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi.
Ia berharap ide, pengalaman, dan refleksi yang diperoleh selama program berlangsung dapat diterapkan untuk mendukung reformasi dan pengelolaan pendidikan di negara masing-masing.
Sambutan kemudian dilanjutkan oleh Director of the International Center for Teacher Education ECNU, Prof. Peng Liping. Ia menegaskan bahwa pendidikan memegang peranan penting dalam pembangunan ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi suatu negara.
Prof. Liping mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, bahwa “Prosperous countries depend on skilled and educated workers” atau negara yang makmur bergantung pada tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan.
“Tanpa dukungan pendidikan, pembangunan suatu negara akan sulit untuk tetap berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Nurmainah menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada East China Normal University atas kesempatan yang diberikan kepada dirinya untuk hadir dan berpartisipasi dalam forum akademik internasional tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa selama tiga minggu mengikuti seminar, para peserta memperoleh banyak wawasan baru mengenai kebijakan pendidikan di Tiongkok, termasuk inovasi pembelajaran yang diterapkan di berbagai jenjang pendidikan.
Salah satu topik yang dinilai sangat menarik dan relevan adalah pembahasan mengenai integrasi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), robotika, serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sistem pendidikan Tiongkok.
Menurut Dr. Nurmainah, perguruan tinggi, khususnya program pascasarjana, memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan STEM, robotika, dan kecerdasan buatan di dunia pendidikan.
“Program Pascasarjana tidak hanya berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan riset, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi pendidikan yang mampu menghasilkan model pembelajaran, teknologi pendidikan, serta kebijakan berbasis bukti untuk menjawab tantangan era digital,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kontribusi Pascasarjana dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas, pengembangan penelitian interdisipliner di lingkungan universitas, serta kolaborasi dengan sekolah, pemerintah, dan dunia industri dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis STEM dan teknologi digital.
Penelitian yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa pascasarjana, lanjutnya, dapat menjadi sumber inovasi untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Melalui penerapan robotika dan kecerdasan buatan di dalam kurikulum pendidikan, kita tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah yang kompleks, serta literasi digital yang sangat dibutuhkan oleh generasi masa depan,” ungkapnya.
Dr. Nurmainah berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti seminar di ECNU dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, dalam memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis teknologi dan inovasi guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia juga menekankan bahwa kerja sama pendidikan antara Tiongkok dan Indonesia memiliki potensi besar untuk mendorong pertukaran budaya, kolaborasi akademik, serta pembelajaran bersama yang saling menguntungkan.
Kemitraan tersebut, menurutnya, diharapkan dapat memperkuat kapasitas pendidikan sekaligus mempercepat adaptasi terhadap perkembangan teknologi global.
Dalam pidatonya, Dr. Nurmainah turut menyampaikan penghargaan kepada para narasumber serta Kementerian Perdagangan Republik Rakyat Tiongkok (Ministry of Commerce of the People’s Republic of China) yang telah mendukung terselenggaranya seminar dengan baik.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga komunikasi dan memperkuat jejaring kerja sama yang telah terbangun selama seminar berlangsung.
Kegiatan penutupan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan, menandai berakhirnya rangkaian seminar internasional yang memberikan wawasan baru mengenai kebijakan dan praktik pendidikan di era transformasi digital.
Kehadiran Direktur Pascasarjana UNTAN dalam forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Universitas Tanjungpura dalam memperluas jejaring internasional dan memperkuat kerja sama global di bidang pendidikan.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar