BNPB Soroti Lonjakan Karhutla, Mitigasi Dini dan Operasi Terpadu Diperkuat
- account_circle Admin
- calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BNPB Soroti Lonjakan Karhutla, Mitigasi Dini dan Operasi Terpadu Diperkuat
YOKALBAR– Lonjakan drastis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat pada awal 2026 menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana menegaskan pentingnya mitigasi dini dan penguatan operasi terpadu lintas sektor untuk mencegah bencana semakin meluas.
Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Penanggulangan Karhutla Provinsi Kalimantan Barat 2026 yang dihadiri Kepala BNPB, Suharyanto, bersama sejumlah kementerian dan pemerintah daerah di Pontianak.
Berdasarkan data yang dipaparkan, luas karhutla periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 10.601,85 hektare, meningkat hingga 20 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selain itu, ribuan titik panas juga terdeteksi di berbagai wilayah Kalbar.
Merespons kondisi tersebut, BNPB menekankan bahwa langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini dan tidak boleh menunggu kebakaran meluas.
“Situasi ini menjadi alarm serius. Penanganan karhutla harus dilakukan secara cepat, terintegrasi, dan berbasis mitigasi risiko,” tegas Suharyanto.
BNPB bersama pemerintah daerah mendorong penguatan operasi terpadu, mulai dari patroli darat dan udara, hingga intervensi cuaca melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan, khususnya di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar.
Selain itu, kesiapsiagaan juga diperkuat melalui pembentukan satuan tugas gabungan yang melibatkan berbagai unsur, seperti BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api.
Pemerintah Provinsi Kalbar sendiri telah menetapkan status siaga darurat penanganan bencana asap sejak Februari hingga November 2026 sebagai langkah antisipatif menghadapi musim kemarau.
BNPB juga mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, potensi kekeringan di Kalbar diperkirakan meningkat pada Juli hingga Agustus, dengan puncak titik panas pada Agustus hingga September.
Karena itu, dukungan pusat terus diperkuat, termasuk kesiapan helikopter patroli dan water bombing serta pelaksanaan OMC secara berkala di wilayah rawan.
“Sinergi pusat dan daerah menjadi kunci. Dengan langkah terpadu dan mitigasi sejak awal, kita optimistis karhutla dapat dikendalikan,” ujar Suharyanto.
Rapat koordinasi ini turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah sebagai bentuk konsolidasi nasional dalam menghadapi ancaman karhutla, khususnya di Kalimantan Barat yang masih menjadi salah satu wilayah prioritas penanganan.
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar