BREAKING NEWS
light_mode
Tag Terpopuler
Beranda » Kalbar » Guru di Singkawang Tanggapi Karhutla: Asap Gusur Ruang Belajar

Guru di Singkawang Tanggapi Karhutla: Asap Gusur Ruang Belajar

  • account_circle Admin
  • calendar_month Jumat, 28 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

YOKALBAR, SINGKAWANG – Saban kali musim kemarau mencapai puncaknya, lonceng sekolah di berbagai pelosok daerah tidak lagi berbunyi sebagai tanda mulai belajar, melainkan penanda kepasrahan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang membakar tak sekadar semak dan pepohonan, tetapi juga mengepulkan jelutong hitam yang merenggut hak paling mendasar anak-anak kita.

Ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menembus angka berbahaya—sering kali melampaui ambang 300 atau kategori Sangat Tidak Sehat—pemerintah daerah dengan cepat mengambil langkah refleks yang seragam: mengunci pintu-pintu sekolah, meliburkan siswa, atau mengalihkan pembelajaran ke layar gawai.

Di atas kertas, merumahkan siswa tampak sebagai keputusan yang sangat manusiawi demi menyelamatkan paru-paru generasi muda dari ancaman Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Namun, mari kita bersikap jujur: apakah menutup ruang kelas merupakan bentuk mitigasi yang nyata, atau sekadar cara halus negara untuk menyembunyikan kegagalan sistemik dalam menjaga lingkungan?

Ketika asap berhasil menggusur ruang belajar, publik sering kali terkecoh oleh ilusi kenyamanan bernama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Sekali lagi, pendidikan dipaksa mengalah pada keadaan. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa PJJ di Indonesia bukanlah tongkat sihir yang bekerja tanpa celah.

Di wilayah terdampak bencana, krisis asap justru memicu krisis ganda. Jurang ketimpangan digital kembali menganga lebar.

Anak-anak dari keluarga miskin yang tidak memiliki gawai memadai atau akses internet stabil mendadak terisolasi dari proses pendidikan.

Ironisnya, rumah yang diharapkan menjadi benteng pertahanan terakhir pun kerap tak mampu melindungi mereka.

Tanpa pendingin atau pemurni udara (air purifier), asap pekat tetap merembes masuk melalui celah dinding, meracuni napas mereka saat tidur maupun saat mencoba membaca buku.

Pada akhirnya, anak-anak ini mengalami kerugian ganda: kesehatan fisik mereka digerogoti racun, sementara kualitas pendidikan merosot akibat learning loss yang terakumulasi saban tahun.

Pemerintah mungkin berdalih bahwa merumahkan siswa adalah bentuk perlindungan tertinggi atas keselamatan jiwa—sebuah duty of care yang tak bisa ditawar. Namun, membingkai krisis asap musiman sebagai bencana alam tak terelakkan adalah sebuah kesesatan logika.

Karhutla bukanlah force majeure, melainkan bencana buatan manusia (man-made disaster) yang dipelihara oleh ketidaktegasan hukum terhadap korporasi pembakar lahan dan pembiaran restorasi gambut yang setengah hati.

Menjadikan PJJ sebagai tameng tahunan
tanpa pernah memberesi akar kejahatan ekologis di hulu sama saja dengan memaksa anak-anak membayar denda atas dosa lingkungan yang tidak pernah mereka perbuat.

Negara tidak boleh terus-menerus membiarkan sektor pendidikan menanggung beban dari kelalaian tata kelola lingkungan.

Di hulu, penindakan hukum tanpa kompromi bagi perusak lingkungan adalah harga mati. Sementara di hilir, protokol darurat pendidikan tidak boleh lagi sebatas “meliburkan sekolah”.

Pemerintah daerah harus mulai berinvestasi pada penyediaan safe space berfilter udara di fasilitas umum desa serta merancang kurikulum darurat bencana ekologi yang tidak mendiskriminasi siswa miskin.

Ruang kelas adalah tempat persemaian masa depan dan benteng peradaban sebuah bangsa. Ketika racun asap dibiarkan leluasa menggusur aktivitas di dalam ruang kelas tanpa ada sanksi dan perubahan nyata, yang terancam padam bukan sekadar lampu-lampu di sekolah. Yang perlahan mati adalah nurani dan cita-cita generasi mendatang. (*)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gema Membangun Desa di Temajuk, Norsan Soroti Tiga Prioritas: Garam, Wisata, dan Infrastruktur

    Gema Membangun Desa di Temajuk, Norsan Soroti Tiga Prioritas: Garam, Wisata, dan Infrastruktur

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

      Yokalbar SAMBAS – Kunjungan Gubernur Kalbar, Ria Norsan, dalam kegiatan Gema Membangun Desa di Temajuk, Kecamatan Paloh Kabupaten Sambas menghasilkan sejumlah catatan penting terkait pembangunan kawasan perbatasan. Setidaknya terdapat tiga sektor yang menjadi perhatian utama pemerintah provinsi, yakni pengembangan usaha garam rakyat, penguatan sektor pariwisata, dan penataan infrastruktur pendukung. Untuk sektor ekonomi, Norsan menyoroti […]

  • Direktur Bank Kalbar, Rokidi yang menyatakan penurunan TKD justru membuka peluang pembiayaan bagi bank daerah untuk membantu pemerintah kabupaten dan kota dalam menjaga kesinambungan pembangunan.

    Dirut Bank Kalbar Doakan Musprov Perbakin Lahirkan Pengurus Visioner

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    YOKALBAR – Dirut Bank Kalbar, Rokidi, menghadiri Musyawarah Provinsi (Musprov) ke-III Pengurus Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Kalimantan Barat Tahun 2026. Kegiatan ini menjadi forum penting dalam konsolidasi organisasi sekaligus penentuan arah pengembangan olahraga menembak di Kalimantan Barat ke depan. Pelaksanaan Musprov tersebut diharapkan menjadi momentum strategis untuk memperkuat struktur organisasi Perbakin Kalbar serta meningkatkan pembinaan […]

  • 216 Personel Komponen Cadangan Matra Darat Resmi Ditetapkan di Rindam XII/Tanjungpura

    216 Personel Komponen Cadangan Matra Darat Resmi Ditetapkan di Rindam XII/Tanjungpura

    • calendar_month Kamis, 29 Okt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    YOKALBAR, SINGKAWANG – Sebanyak 216 personel Komponen Cadangan (Komcad) Matra Darat resmi ditetapkan dalam Upacara Penetapan Komcad yang berlangsung di Rindam XII/Tanjungpura, Kamis (29/10). Upacara dipimpin oleh Kepala Staf Kodam XII/Tanjungpura, Brigadir Jenderal TNI Bambang S. Penetapan ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertahanan dalam memperkuat pertahanan negara melalui pembentukan sumber daya manusia yang memiliki […]

  • Pemkab Mempawah Cek Dapur MBG

    Pemkab Mempawah Cek Dapur MBG

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    YOKALBAR MEMPAWAH -Selain meninjau pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Sungai Pinyuh, Penjabat (Pj) Bupati Mempawah, Ismail, juga mengecek kondisi dapur MBG yang menjadi pusat penyediaan makanan bergizi bagi para siswa. Dalam kesempatan tersebut, Ismail menegaskan bahwa program MBG yang merupakan salah satu program utama Presiden Republik […]

  • Kasdam XII/Tpr Tutup Pendidikan Pertama Bintara Infanteri TNI AD Gelombang II Tahun 2026

    Kasdam XII/Tpr Tutup Pendidikan Pertama Bintara Infanteri TNI AD Gelombang II Tahun 2026

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

    YOKALBAR, SINGKAWANG – Pangdam XII/Tpr Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito, S.I.P., M.Si., diwakili Kasdam XII/Tpr Brigjen TNI Bambang Sujarwo, S.H., M.Sos., M.M., menutup Pendidikan Pertama Bintara Infanteri TNI AD Gelombang II Tahun 2026 di Lapangan Sapta Marga Rindam XII/Tpr, Singkawang, Selasa (11/8/2026). Pendidikan yang berlangsung selama delapan minggu, mulai 17 Juni hingga 11 Agustus 2026, […]

  • Pemprov Kalbar Minta Perketat Standar Dapur MBG, Harap Beri Sanksi SPPG Tak Sesuai Standar

    Pemprov Kalbar Minta Perketat Standar Dapur MBG, Harap Beri Sanksi SPPG Tak Sesuai Standar

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • account_circle Admin
    • 0Komentar

      KETAPANG – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menegaskan komitmennya memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah berjalan aman dan sesuai standar kesehatan. Pengawasan terhadap dapur penyedia makanan akan diperketat guna mencegah terjadinya kasus keracunan pangan di lingkungan sekolah. Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, saat meninjau pelaksanaan Program MBG di SMAN 1 […]

expand_less